Mengenal Apa Yang di Maksud Spritual dan Bagaimana Cara Kerjanya

Mengenal Apa Yang di Maksud Spritual dan Bagaimana Cara Kerjanya

Mengenal Apa Yang di Maksud Spritual dan Bagaimana Cara Kerjanya – Istilah ‘Kerohanian’ atau ‘Spiritualitas’ tidak memiliki definisi yang pasti, meskipun para ilmuwan sosial telah menetapkan spiritualitas sebagai pencarian untuk yang dikaitkan dengan “kudus,” di mana “suci” secara luas didefinisikan sebagai sesuatu yang diatur terpisah dari umumnya dan pantas dihormati.Penggunaan istilah “spiritualitas” telah berubah sepanjang zaman.

Di zaman modern, spiritualitas sering dipisahkan dari agama-agama abrahamik,dan berkonotasi campuran antara Psikologi humanis dengan mistis dan tradisi esoteris dan agama-agama timur yang ditujukan untuk kesejahteraan dan pengembangan pribadi.Pengartian “pengalaman spiritual” memainkan peran penting dalam spiritualitas modern, tetapi memiliki asal yang relatif baru.

Hampir sepanjang hidup manusia, berurusan dengan daftar idn poker asia kata spiritual. Apalagi di Indonesia. Spiritual bahkan sering menjadi perbincangan setiap saat. Apa itu spiritual? Dan bagaimana cara kerjanya? Kenapa ia seolah begitu penting dalam kehidupan manusia.

Spiritual adalah sebuah kata. Untuk menyebutkan pada suatu tindakan manusia. Dan seringkali mengaitkan pada ritual-ritual tertentu. Termasuk keagamaan.

Saat Anda melakukan tindakan semacam ritual, Anda bisa kita sebut berspiritual. Apa pun itu tindakannya. Baik melalui agama yang terorganisir, sistem keyakinan berbagai aliran, hingga budaya dan tradisi, sering kita kaitkan sebagai tindakan spiritualitas.

Spiritualitas

Apa itu spiritual?

Sudah terjawab di paragraf pembuka diatas. Apa pun tindakan yang dilakukan manusia dalam bentuk ritual, dapat  kita katakan sebagai Spiritual

Apa yang dimaksud dengan spiritual?

Spiritual adalah sesuatu yang banyak dibicarakan. Tetapi sering disalahpahami. Banyak orang berpikir, bahwa; spiritualitas dan agama adalah hal sama. Sehingga, sering terjebak membawa kepercayaan dan prasangka agama ke dalam makna spiritualitas. Meskipun semua agama menekankan spiritualisme sebagai bagian dari iman, Anda bisa menjadi ‘spiritual’ tanpa menjadi relegius atau anggota dari agama yang terorganisir.

Bagaimana mendefinisikan spiritualitas?

Tidak ada defenisi khusus dalam berspiritual. Karena setiap orang, dapat saja mengklaim bahwa dirinya berspiritual saat melakukan tindakan tertentu. Semua Orang dapat mengaku telah berspiritual saat melakukan diskusi tentang pikiran. Semua orang dapat disebut sudah berspiritual saat rutin melakukan meditasi. Orang-orang dapat dikatakan telah berspiritual saat rutin melakukan ritual keagamaan. Orang-orang dapat disebut berspiritual saat menyembah sesuatu. Seperti batu, alam, langit, matahari, tuhan, dewa, atau apa pun itu.

Hal yang paling utama, yang dapat didefinisikan untuk spiritualitas adalah; output atau hasil dari berbagai tindakan tersebut. Jika, sudah dianggap memiliki moralitas, kebijaksanaan, ketenangan bathin, kebahagiaan, bisa disebut telah mencapai tujuan spiritual.

Apa perbedaan relegius dan spiritual?

Orang relegius, adalah orang yang dianggap taat pada agama tertentu. Atau orang yang melakukan tindakan yang menjadi perintah dalam agamanya. Baik dalam bentuk ritual, bahkan hingga mengenakan atribut-atribut yang mencerminkan simbol-simbol Agamanya. Makanya, orang menggunakan pakaian yang disarankan Agamanya, sering juga disebut relegius.

Sementara, spiritualitas lebih menekankan pada konsep upaya untuk pengelolaan kejiwaan. Bisa menggunakan konsep Agama atau tanpa Agama. Intinya, orang-orang yang melakukan upaya untuk membangun dirinya dari sisi kejiwaan, dengan ritual apa pun, bisa disebut berspiritual.

Perbedaan antara spiritual dan relegius/agama, mungkin bisa diklasifikasikan sebagai berikut;

Agama: Ini adalah seperangkat keyakinan dan praktik terorganisasi yang spesifik, biasanya dibagikan oleh komunitas atau kelompok.

Spiritualitas: Ini lebih merupakan praktik individu, dan ada hubungannya dengan memiliki rasa damai dan tujuan. Ini juga berkaitan dengan proses pengembangan kepercayaan di sekitar makna hidup dan hubungan dengan orang lain, tanpa nilai-nilai spiritual yang ditetapkan.

Agama VS Spiritual

Salah satu cara untuk memahami perbedaan antara Agama dan Spiritual, mungkin bisa digambarkan dalam analogi berikut ini;

Agama; Anda bisa membayangkan permainan sepakbola. Aturan, wasit, pemain lain, dan tanda-tanda lapangan, membantu memandu Anda saat melakukan permainan. Mirip dengan agama, yang mungkin memandu Anda menemukan kerohanian Anda.

Spiritual: Menendang bola di sekitar taman, tanpa harus bermain di lapangan. Atau dengan semua aturan dan peraturan. Juga bisa memberi Anda kepuasan dan kesenangan. Dan tetap mengekspresikan esensi permainan. Ini mirip dengan spiritualitas dalam hidup.

Anda dapat melakukan salah satu. Atau keduanya

Anda dapat mengidentifikasi, sebagai kombinasi agama dan spiritual. Tetapi, menjadi relegius tidak secara otomatis membuat Anda spiritual, atau sebaliknya.

Mengapa spiritual dianggap penting?

Hidup bisa penuh dengan pasang surut. Baik dan buruk. Karena hidup dalam peradaban dengan sistem sosial yang dinamis. Banyak orang merasakan, kerohanian/spiritual, sebagai cara terbaik untuk mencari kenyamanan dan kedamaian dalam hidup. Ini sering dipraktikkan seperti dalam bentuk, pengkajian, meditasi/yoga, wirid, tafakur, kontemplasi, menyepi, dan berbagai hal lainnya. Sehingga, mampu fokus meminimalisir berbagai tekanan hidup dan pelepasan emosi.

Spiritualitas/Relegius; Cara mendapatkan perspektif

Spiritualitas mengakui bahwa, peran Anda dalam kehidupan, memiliki nilai lebih besar daripada apa yang Anda lakukan setiap hari. Itu membantu manusia untuk merasakan kondisi rasa bebas dari ketergantungan pada hal-hal materi. Anda membantu manusia merasa mendapatkan tujuan hidup. Biasanya, dianggap lebih berarti dari berbagai kepentingan hidup itu sendiri. Spiritualitas dianggap mampu mengatasi berbagi perubahan atau ketidakpastian.

Hakikat Spiritual

Spiritual dipegang oleh manusia yang percaya bahwa; kehidupan manusia tidak hanya dalam bentuk tubuh fisik (materi) semata. Lebih dari itu, manusia percaya kehidupan itu ditopang oleh sesuatu yang disebut spirit. Atau sesuatu selain dari bentuk tubuh fisik.

Esensi/hakikat dalam spiritualitas adalah; seni manusia dalam memaknai hidup. Tentang serangkaian upaya manusia dalam menjalani hidup, sehingga kehidupan tersebut dianggap memiliki arti. Bukan sebagai sebuah kebetulan semata. Yang tidak memiliki arti sama sekali.

Intinya adalah, manusia membutuhkan rasa nyaman dalam hidup. Untuk itu, manusia mencari cara untuk mendapatkannya. Salah satunya, dengan melakukan tindakan tertentu. Sehingga memunculkan persepsi. Atau kesimpulan. Yang merubah kondisi pikiran. Dan itu memicu sensasi rasa nyaman. Rasa memiliki arti.

Itulah kenapa, berbagai ritual/tindakan, baik melalui agama yang terorganisir atau bukan, mampu bertahan ditengah peradaban manusia. Karena, apa pun yang dilakukan, secara otomatis mampu mengubah persepsi dan kesimpulan dalam dimensi pikiran manusia. Dan perubahan itu, kemudian memicu sensasi rasa.

Saat Anda menyembah batu, dan percaya bahwa Anda terkoneksi dengan sesuatu, itu otomatis memicu sensasi rasa tertentu. Saat Anda menyembah matahari, dan percaya bahwa disana itu ada sesuatu, maka itu secara otomatis juga akan memicu sensasi rasa dalam diri Anda.

Sama halnya, ketika Anda percaya bahwa ditempat tertentu ada hantu, maka secara otomatis sistem syaraf Anda, akan memicu rasa takut. Ini, bukan soal benar atau tidak benar, ada hantunya, ini adalah soal mekanisme sistem syaraf Anda memicu sensasi dalam diri Anda.

Demikian halnya, tentang konektivitas manusia dengan sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan/Dewa/Sang Maha/dll. Ini lebih tentang apa yang ada dalam pikiran Anda. Kepercayaan Anda. Persepsi atau asumsi dalam dimensi pikiran Anda yang percaya terkoneksi, secara otomatis memunculkan sensasi rasa terkoneksi. Dan sensasi itulah yang kemudian membuat hidup manusia terasa berarti.

Anda yang percaya, adanya Tuhan/Dewa/Sang Maha/dll, yang melihat Anda, akan merasakan sensasi rasa diperhatikan.

Manusia cenderung tidak benar-benar siap untuk berjalan sendiri, dalam kehidupannya. Manusia membutuhkan sesuatu, yang memungkinkan untuk menguatkan pikiran. Dan itu butuh simbol-simbol. yang kemudian bisa disebut sabagai sang maha. Simbol-simbol yang kemudian memicu sensasi rasa.

Ini yang kemudian membuat pikiran, memunculkan berbagai ide dan gagasan untuk mengaplikasikannya. Hingga membentuk berbagai aliran sistem keyakinan sepanjang zaman.

Manusia butuh rasa itu..
Sepanjang manusia butuh rasa itu…
Sepanjang itu pula spiritual tetap penting
Dalam kehidupan manusia