Pernikahan Beda Agama Memicu UU Anti Konversi Baru di India

Pernikahan Beda Agama Memicu UU Anti Konversi Baru di India

Pernikahan Beda Agama Memicu UU Anti Konversi Baru di India – Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.

Maraknya pernikahan beda agama di India memunculkan sebuah UU Anti Konversi yang telah diberlakukan belum lama ini. Dalam undang-undang tersebut diketahui telah menargetkan sebuah kelompok ‘Love Jihad’ yang berada di Agen Sbobet88 Indonesia India.

‘Love Jihad’ adalah teori konspirasi kaum sayap kanan/ekstrim Hindu yang mengklaim bahwa pria Muslim merayu wanita Hindu untuk menikah dan memaksa mereka masuk Islam. Bagaimana awal ceritanya?

1. Pernikahan beda agama yang berlangsung di India telah lama menuai kecaman
Pernikahan Beda Agama di India Picu UU Anti Konversi Baru

Pernikahan beda agama yang berlangsung di India telah menuai kecaman banyak pihak, terutama pihak keluarga yang selalu menentang pernikahan seperti itu. Berdasarkan undang-undang baru yang di berlakukan, menetapkan bahwa siapapun yang ingin pindah agama harus meminta persetujuan dari otoritas distrik, memberi negara kekuasaan secara langsung atas hak warga untuk mencintai dan memilih pasangan.

Dalam undang-undang tersebut bagi yang melanggar akan terancam hukuman 10 tahun penjara dan pelanggaran-pelanggaran di bawahnya tidak dapat di jamin.Setidaknya 4 negara bagian lainnya yang berada di bawah kekuasaan partai Bharatiya Janata (BJP) sedang menyusun undang-undang serupa yang menentang “Love Jihad”.

Para kritikus menyebut undang-undang itu di anggap regresif dan menyinggung serta menyatakan mengatakan itu akan di gunakan sebagai alat untuk menargetkan pasangan berbeda agama, terutama penghubung antara wanita beragama Hindu dan pria beragama Muslim. Sebuah petisi menentang undang-undang tersebut juga telah di ajukan ke Mahkamah Agung setempat.

2. Berawal pada sebuah video yang viral pada Desember 2020 lalu
Pernikahan Beda Agama di India Picu UU Anti Konversi Baru

Berawal dari sebuah video yang viral lalu di mana sekelompok pria, yang di ketahui merupakan para pendukung BJP.  Mengejek seorang wanita di kota Modarabad, negara bagian Uttar Pradesh bagian utara dan menilai wanita tersebut pantas di berikan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku.

Alasannya, wanita yang di ketahui beragama Hindu menikahi seorang pria beragama Muslim yang tentunya menimbulkan keresahan di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Seorang aktivis bernama Bajrang Dal menyerahkan wanita tersebut bersama suami dan saudara laki-lakinya ke kepolisian.  Serta kemudian mengirimnya ke penampungan pemerintah, sedangkan suami dan saudara laki-lakinya di kirim ke penjara.

Beberapa hari kemudian, wanita tersebut mengalami keguguran setelah sedang hamil selama 7 minggu. Awal pekan ini, pihak pengadilan mengizinkannya untuk kembali ke rumah suaminya setelah dia memberi tahu hakim bahwa dia sudah dewasa. Dan telah menikah dengan pria Muslim karena pilihan, sedangkan suami dan iparnya tetap berada di penjara. Ketua Komisi Perlindungan Anak setempat, Vishesh Gupta, justru membantah kabar keguguran yang di alami oleh wanita itu.  Dan bahkan bersikeras bahwa bayi yang di kandungnya sampai saat ini masih aman.

3. Umat muslim di India kecewa dengan keputusan dalam undang-undang yang di berlakukan ini
Pernikahan Beda Agama di India Picu UU Anti Konversi Baru

Di lain pihak, umat muslim di India merasa kecewa dengan aturan-aturan yang berlaku dalam undang-undang tersebut. Di mana sebenarnya yang menjadi korban adalah wanita Hindu di India. Peraturan ini sendiri menimbulkan kecaman dan kemarahan yang mendalam di antara para perempuan Hindu liberal. Karena di nilai melanggar hak konstitusional mereka untuk memilih pasangan bagi diri mereka sendiri.

Peraturan tersebut mencabut keinginan bebas wanita Hindu serta merusak otonomi dan kebebasan sipil mereka. Secara historis, pernikahan di India merupakan alat untuk mengontrol seksualitas wanita, menyebarkan garis kasta, dan menghentikan wanita menjalankan otonomi mereka.

Propaganda aturan ini tidak melakukan apapun untuk melindungi hak-hak wanita. Melainkan semakin membatasi mobilitas, interaksi sosial, dan kebebasan dalam memilih pasangan. Para wanita muda dari semua agama di India semakin mencari kebebasan untuk bekerja, belajar, menikah dengan siapapun yang di rasa cocok. Serta menjalani hidup mereka dengan caranya sendiri.