Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona

Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona

Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona – Upacara pemakaman adalah sebuah upacara yang berhubungan dengan  penguburan, kremasi, dll, dari jenazah orang mati, atau peringatan penguburan (atau hal sejenisnya). Kebiadaan upacara pemakaman terdiri dari kepercayaan dan praktik yang digunakan oleh sebuah budaya untuk mengenang dan menghormati orang mati melalui berbagai monumen, doa dan ritual. Kebiasaan tersebut lebih beragam antar budaya dan antar agama dan denominasi-denominasi dalam budaya.

Virus corona yang telah menjadi pandemik mengubah secara drastis ritual pemakaman di banyak negara. Ada yang melarang upacara penguburan, ada yang terpaksa tak mengikuti tradisi pemakaman sesuai ajaran agama.

Dengan jumlah kematian akibat COVID-19 yang mencapai hampir 70.000 jiwa di seluruh dunia, bukan hanya petugas kamar mayat di rumah sakit yang kewalahan mengurus jenazah, tapi juga para pekerja di rumah duka. Keluarga pun mengalami dilema antara harus melepaskan kepergian yang terkasih di tengah APK IDN Poker Android Terbaru kesunyian atau menggelar doa bersama.

1. Italia dan Spanyol melarang adanya upacara pemakaman
Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona

Italia dan Spanyol menjadi negara dengan kematian akibat COVID-19 terbanyak di dunia. Menurut data John Hopkins University, saat ini masing-masing negara melaporkan ada 15.887 dan 12.641 nyawa yang melayang karena penyakit yang ditimbulkan virus corona tersebut. Kedua negara juga sudah melakukan lockdown sebagai upaya menekan laju penyebaran wabah.

Salah satu dampaknya adalah perubahan ritual menguburkan jenazah COVID-19. Pemerintah di Roma dan Madrid melarang adanya upacara pemakaman karena khawatir perkumpulan yang terjadi justru akan membuat virus semakin mudah menyebar. Mengutip AFP, Spanyol hanya mengizinkan maksimal tiga orang yang bisa hadir saat jenazah di kuburkan.

2. Jenazah Yahudi dan Muslim di Israel dan Palestina tak bisa di makamkan dengan cara biasanya
Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona

Seperti di laporkan Reuters, perubahan juga terjadi Israel dan Palestina. Jenazah Yahudi umumnya di bungkus kain dan tanpa peti. Kini, tubuh mayat yang meninggal akibat COVID-19 harus di mandikan oleh orang-orang yang memakai alat pelindung diri lengkap, kemudian di bungkus dengan plastik sebanyak dua kali sebelum di kebumikan.

Aturan yang sama berlaku terhadap jenazah beragam Islam. Mufti Besar Yerusalem dan Wilayah Palestina, Sheikh Muhammad Hussein, mengatakan situasi saat ini memperbolehkan perubahan ritual keagamaan untuk memakamkan jenazah. Ia menjelaskan jenazah COVID-19 boleh tidak di mandikan dan tidak di kafani, tapi di bungkus dengan plastik sebelum di kubur.

3. Tiongkok mengatur secara ketat bagaimana pemakaman berlangsung
Ritual Pemakaman di Banyak Negara Berubah Drastis Akibat Virus Corona

Sementara di Tiongkok, selama berminggu-minggu ketika puncak wabah virus corona berlangsung, keluarga di larang mengambil abu jenazah COVID-19. Kini, begitu jumlah kasus dan kematian mengalami penurunan, pemerintah menuntut keluarga untuk memakamkan jenazah dengan cepat dan tenang.

Liu Pei’en, seorang warga yang kehilangan ayahnya karena COVID-19, mengatakan kepada The New York Times bahwa pemerintah menyuruh dua petugas untuk menemaninya ke rumah duka. Di sana, ia di perintahkan untuk menyelesaikan ritual selama 20 menit. Kepergian ayah Liu tidak di iringi dengan hadirnya anggota keluarga lain.

Kegeraman terjadi bukan hanya karena kecurigaan bahwa pemerintah menyembunyikan jumlah kasus COVID-19 yang sesungguhnya, tapi juga sikap mengontrol bagaimana keluarga yang di tinggalkan harus berduka. Pada Sabtu (4/4), pemerintah mengadakan hari berkabung tahunan secara nasional untuk menghormati dan mendoakan para jenazah yang meninggal.

Bendera di kibarkan setengah tiang, kegiatan di hentikan, dan alarm di bunyikan selama lima menit mulai pukul 10.00 pagi. Para jenazah di sebut sebagai martir dan kompatriot yang berkorban demi perang melawan wabah, bukan korban dari virus itu sendiri.