Sejarah Heroik nan Mistis Dam Oongan yang Ada di Bali

Sejarah Heroik nan Mistis Dam Oongan yang Ada di Bali

Sejarah Heroik nan Mistis Dam Oongan yang Ada di Bali – Heroik atau kepahlawanan disebutkan bahwa pahlawan adalah pejuang yang gagah berani, orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jelasnya terdapat tiga unsur yang membentuk suatu makna heroik yaitu berani, korban, dan benar.

Dam Oongan atau Bendungan Oongan di Jalan Noja Saraswati, Denpasar, Bali, memiliki kisah sejarah tersendiri. Dinamakan Dam Oongan karena awalnya berasal dari kata “Dam” yang berarti “bendungan” dan kata “Oongan” yang berarti “manusia”. Konon, bendungan ini terbentuk karena pengorbanan manusia sebagai fondasi awal dari bendungan yang sudah ada saat ini.

Oleh karena itu, masyarakat sekitar mengenali IDN Poker Apk bendungan ini sebagai salah satu tempat yang angker dan disegani. Kini, bendungan tersebut telah di renovasi menjadi taman rekreasi oleh Pemerintah Kota Denpasar dengan nama Taman Lila Ulangun. Pada penelusuran tim PM:AM, Bayu dan Doel, kali ini berusaha untuk mengungkap misteri dibalik sejarah yang melekat pada Dam Oongan ini.

1. Latar belakang sejarah terbentuknya Dam Oongan pada zaman kerajaan

Dahulu kala, ada seorang raja dari Kerajaan Pemecutan bernama Cokorda Pemecutan. Sang raja memiliki patih yang amat setia dan bijaksana bernama Ki Sawunggaling. Patih ini juga digunakan oleh kerajaan sebagai penghubung antara berbagai kerajaan yang ada.

Suatu hari, sawah-sawah di wilayah Kerajaan Kesiman kekeringan hingga membuat rakyatnya mengungsi ke Kerajaan Badung. Masyarakat pun membuat bendungan, namun sawah-sawah milik petani tetap tidak mendapatkan air.

Melihat kondisi ini, Patih Ki Sawunggaling mencari cara dan melakukan semedi untuk memohon petunjuk. Saat melakukan semedi, Ki Sawunggaling mendapat petunjuk untuk membangun bendungan dengan fondasi manusia.

“Karena Ki Sawunggaling adalah orang yang baik, jadi dia gak berpikir bahwa itu harus ada manusia yang berkorban. Hingga akhirnya Ki Sawunggaling sendiri yang mengorbankan dirinya,” ujar Bayu.

Namun, Ki Sawunggaling tidak berkorban sendiri sebab istrinya dengan setia dan ikhlas mengikuti langkah suaminya untuk menjadi korban. Pasangan suami-istri ini rela berkorban untuk kemakmuran rakyatnya.

Sejak saat itu, air di dalam bendungan ini bisa mengaliri sawah-sawah rakyat. Sehingga, bendungan ini diberikan nama Dam Oongan oleh masyarakat Denpasar.

2. Kerajaan gaib yang melintasi Dam Oongan

Saat melakukan penelusuran, Bayu menemukan benang merah dari permasalahan air bendungan yang tidak mengaliri sawah masyarakat saat itu. Meski pun air dalam bendungan tersebut terbilang banyak dan bisa untuk menyejahterakan masyarakat, namun masalah kekeringan masih menerpa.

Bayu mengatakan, terdapat kerajaan gaib yang berada melintasi sungai Dam Oongan. Dahulu kala, kerajaan gaib dan kerajaan manusia di tempat ini sangat harmonis. Mereka menjalani sistem kerajaannya masing-masing tanpa saling mengganggu.

Lambat laun, sifat masyarakat Badung sekitar berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Mereka merusak alam, membunuh, memperkosa, dan hal buruk lainnya yang di lakukan oleh masyarakat Badung.

“Lahan kering mereka, itu karena perbuatan mereka sendiri,” ujar Bayu yang saat itu di rasuki oleh makhluk gaib.

Menurut makhluk gaib yang merasuki Bayu, Galih, masyarakat Badung kala itu membunuh karena ingin mendapat kekuasaan. Mereka serakah, haus akan kekuasaan dan kekayaan hingga bisa melakukan hal-hal keji.

Karena perbuatan keji yang di lakukan masyarakat Badung tersebut, kerajaan gaib yang berada di atas sungai Dam Oongan pun menahan airnya untuk bisa di alirkan ke sawah-sawah rakyat.

Hal ini di ketahui sebagai bentuk teguran supaya warga Badung sadar dan mau belajar untuk menjadi manusia yang baik.

“Mereka harus belajar. Tidak seperti dulu (masyarakat yang gak harmonis),” ujar Galih.

3. Sejarah penyebab Dam Oongan menjadi tempat yang angker

Derasnya air di Dam Oongan pun masih bertahan hingga Indonesia di jajah oleh Belanda saat itu. Sebelumnya, bendungan ini hanya di bangun dengan menggunakan kayu dan bambu oleh masyarakat.

Namun, Belanda kala itu memanfaatkan bendungan ini untuk berbagai hal demi kepentingannya sendiri. Sejak itu, Belanda mulai merenovasi Dam Oongan menggunakan bebatuan yang di beri semen supaya kokoh.

Sayangnya, untuk menghemat lahan pemakaman yang harus di buat oleh Belanda karena membunuh masyarakat Indonesia, Dam Oongan pun di jadikan sebagai tempat untuk menguburkan orang-orang Indonesia yang di bantai oleh Belanda dan juga sebagai fondasi dari pembangunan Dam Oongan.

Bendungan ini selain di gunakan sebagai tempat untuk pengairan, juga di gunakan sebagai kuburan massal oleh Belanda.

“Di zaman Belanda ketika di ubah menjadi kayak begini, dasar-dasarnya itu orang. Korban-korbannya Belanda gitu. Itu yang yang bikin tempat ini jadi angker,” ujar Bayu.

Bayu mengatakan, karena korban-korban pembantaian dari sejarah Belanda tersebut yang menyebabkan Dam Oongan menjadi angker, jadi bukan karena kisah sejarah Ki Sawunggaling dan istrinya yang mengorbankan diri saat itu.