Progres Vaksin Corona Buatan RI

Progres Vaksin Corona Buatan RI

Progres Vaksin Corona Buatan RI

Progres Vaksin Corona Buatan RI – Virus corona atau yang sekarang dikenal sebagai Covid-19 telah mewabah selama lebih dari satu bulan. Per Selasa, virus corona ini telah menginfeksi lebih dari 73 ribu orang di berbagai negara. Korban meninggal yang disebabkannya pun telah mencapai 1.873 jiwa.

Memang wabah ini telah berlangsung selama lebih dari sebulan. Namun hingga saat ini, belum terdengar kabar yang jelas mengenai vaksin yang bisa menangkalnya.

Dunia berlomba-lomba menciptakan vaksin demi melawan pandemi virus Corona COVID-19. Indonesia termasuk negara yang turut mengembangkan vaksin tersebut.

Anggota tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, menjelaskan bahwa kemungkinan vaksin Corona buatan Indonesia baru akan tersedia pertengahan tahun 2021. Sejauh ini vaksin sudah melewati tujuh dari 15 tahap yang dibutuhkan.

Tiga institusi yang dipercaya untuk mengembangkan vaksin COVID-19 di Indonesia adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, PT Bio Farma, dan PT Kalbe Farma.

“Kita patut optimis bahwa Indonesia dapat menghasilkan vaksin COVID-19 sendiri dalam waktu secepatnya. Dari 15 tahapan yang harus dipenuhi, saat ini calon vaksin asal Indonesia telah berhasil melalui delapan tahapan,” kata dr Reisa dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Selasa.

“Akan menuju 7 langkah berikutnya di mana proses ini membutuhkan waktu lebih lama,” lanjutnya.

dr Reisa mengingatkan, sebelum vaksin tersedia semua orang tetap wajib untuk melindungi diri dan sekitar dari virus Corona. Caranya adalah dengan selalu menjaga jarak aman 1-2 meter, pakai masker dengan benar, dan cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik.

Sudah ada beberapa perusahaan yang berusaha membuat vaksin

Industri vaksin dunia didominasi oleh perusahaan farmasi besar, seperti Pfizer, MSD, GlaxoSmithKline (GSK), Sanofi, dan Johnson & Johnson. Namun pada awal periode wabah, kelima perusahaan besar itu tidak tergerak untuk menciptakan vaksin.

Ada dua alasan utama yang mendasarinya. Pertama, waktu yang didedikasikan untuk vaksin sangatlah lama. Kedua, biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit.

Melihat masalah ini, sebuah lembaga nonprofit bernama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) turun tangan. Mereka mengumpulkan donasi untuk membiayai proses pembuatan vaksin.

Sekarang, sudah ada beberapa perusahaan farmasi yang tergerak untuk melakukannya. Perusahaan yang bekerja sama dengan CEPI adalah GSK bersama dengan Melbourne’s Doherty Institute dari Australia. Sedangkan pihak lain yang juga turun tangan adalah Medigen Vaccine Biologics Corp dan National Institute of Health (NIH).