UU Cipta Kerja di Nilai Mengancam Masyarakat Adat

UU Cipta Kerja di Nilai Mengancam Masyarakat Adat

UU Cipta Kerja di Nilai Mengancam Masyarakat Adat

UU Cipta Kerja di Nilai Mengancam Masyarakat Adat – Pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi UU Ciptaker dalam rapat paripurna DPR RI, Senin (5/10/2020) menimbulkan banyak protes terutama masyarakat adat.

Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi mengatakan UU ini jadi ancaman lebih serius yang membuat situasi masyarakat adat Indonesia semakin terancam.

Dilansir https://icsdchurches.com walau sudah ada berbicara tentang masyarakat adat, tapi hak konstitusinya belum secara utuh dipenuhi. Ada yang disebut hak kolektif (hak asal-usul), masyarakat adat yang sama sekali belum jadi landasan dalam pembentukan dan semangat UU ini,”

Jika merujuk proses pembentukannya, Rukka menyebut jika legitimasi UU Ciptaker ini tak ada. Menurut dia, proses pembentukannya saja sudah minim atau negatif dari partisipasi masyarakat. Jadi dia meminta, tak usah terpengaruh dengan pengambilan keputusan yang tak mau melibatkan masyarakat.

“Kita harus ingat jika negara ini punya kita, keputusan apapun yang diambil DPR atau pemerintah yang akan berpengaruh ke kita, [nothing about us without us]. Tak pernah ada konsultasi dengan masyarakat adat, bahkan dengan sengaja UU ini memanfaatkan masa pandemik COVID-19.

Jadi, Rukka menilai selama pandemik ini DPR memanfaatkan hal tersebut untuk mengerjakan, memproses, dan membahas UU Ciptaker secara diam-diam. Dan, mereka juga dianggap memanfaatkan keterbatasan masyarakat adat dan masyarakat lain pada umumnya untuk berpartisipasi.

Selanjutnya, UU Ciptaker ini juga dianggap oleh Rukka, bertentangan dengan UUD 1945, hukum HAM, serta anti demokrasi. Jadi dia menyebut jika UU ini bertentangan dengan penghormatan kepada hak-hak masyarakat adat yang sudah sesuai dengan UUD Pasal 28 i Ayat 3 dan Pasal 18 B Ayat 2, termasuk juga dalam standar hukum internasional.

“Ada yang penting untuk masyarakat adat dalam hukum internasional. Segala Penghapusan diskriminasi rasial, mengatakan dalamĀ general pollingĀ masyarakat adat bahwa perampasan wilayah adat adalah salah satu diskriminasi rasial,” bebernya.

UU Ciptaker juga berpotensi memperkuat ancaman perampasan lahan masyarakat adat

Rukka juga bingung, karena sikap anti-demokrasi terlihat dalam UU baru ini, yakni dari dihapuskannya persetujuan DPR dalam melepaskan kawasan hutan. Padahal, DPR sendiri merupakan representasi dari masyarakat dan mewakili masyarakat Indonesia.

“Sehingga dengan demikian UU Ciptaker ini akan memperluas dan memperkuat ancaman perampasan wilayah masyarakat adat,” tukas dia.

Selain permasalahan di atas, masih banyak beberapa persoalan lagi yang ditimbulkan oleh UU tersebut yang memberikan dampak negatif bagi masyarakat adat.