WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19, Efeknya Berbahaya

WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19, Efecknya Berbahaya

WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine

WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine – Dirjen WHO, Tendros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan bahwa pihaknya menghentikan sementara kajian tetang hydroxycholoroquine sebagai obat potensial COVID-19 karena masalah keamanan. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers pada Senin di Jenewa.

Baca juga : Bahar Bin Smith Buka Suara Soal Isu Dipukuli dan Cukur Rambut

Keputusan ini dibuat setelah studi observasi diterbitkan pada Jumat dalam jurnal kedokteran The Lancet. Dalam jurnal dijelaskan bagaimana pasien Covid-19 yang parah yang diobati dengan hydroxychloroquine dan chloroquine menjadi makin parah dan hampir mati.

Tedros mengatakan, kelompok eksekutif independen sekarang sedang meninjau penggunaan hydroxychloroquine dalam Uji Coba Solidaritas WHO.
Kelompok eksekutif mewakili 10 negara peserta dalam persidangan.

“Tinjauan ini akan mempertimbangkan data yang dikumpulkan sejauh ini dalam Uji Solidaritas dan, khususnya data acak yang kuat, untuk secara memadai mengevaluasi potensi manfaat dan bahaya dari obat ini,” jelas Tedros, dilansir dari CNN, Selasa (26/5).

“Kelompok Eksekutif telah menerapkan jeda sementara hydroxychloroquine dalam Uji Coba Solidaritas sementara yang ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data.”

Trumps Konsumsi Hydroxychloroquine Setiap Hari

Uji coba, yang melibatkan secara aktif pasien dari 400 lebih rumah sakit di 35 negara, adalah upaya penelitian global untuk menemukan terapi yang aman dan efektif untuk Covid-19.

Tedros menambahkan, uji coba lainnya sedang berlangsung.

“Kekhawatiran ini terkait dengan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine dalam Covid-19,” katanya.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa obat ini diterima karena secara umum aman untuk digunakan pada pasien dengan penyakit autoimun atau malaria.”

Kepala Ilmuwan WHO, Dr. Soumya Swaminathan, pada Senin mengatakan uji coba hanya menggunakan hydroxychloroquine, tak lagi menggunakan chloroquine yang berbahaya.

Pada 18 Mei, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku menggunakan hydroxychloroquine setiap hari.

Trump mengaku menggunakan obat anti malaria utu setelah konsultasi dengan dokter Gedung Putih.

Trump mengatakan tidak terpapar virus corona, tapi mulai meminum obat tersebut karena mendengar dari pihak garda terdepan yang mengiriminya surat mengatakan mereka menggunakan obat tersebut untuk pencegahan.

Pernyataan Trump soal obat ini membuat penjualan hydroxychloroquine melonjak.

Sumber : merdeka.com